goa jomblang

Goa Jomblang, Cahaya Surga yang Mempesona

Sebuah free pass dari Pak Cahyo Alkantana, mengantarkan saya ke sebuah tempat tak terlupakan bernama Goa Jomblang. Tidak sulit untuk mencapai tempat ini, hanya menghidupkan GPS pada handphone butut saya, dan sekitar 1,5 jam setelahnya, terlihat sebuah papan triplek yang tertulis petunjuk jalan menuju Goa Jomblang.

Sampai di sebuah resort milik Pak Cahyo, saya disambut oleh seorang yang ramah dan disapa Pak Mul. Beliau adalah penduduk sekitar yang bekerja sebagai operator ekowisata Goa Jomblang. Berbagai perlengkapan yang nampak aneh diberikan kepada saya. Raut kaget dan bingung tersirat dari wajah, seakan menyimpan tanya tentang fungsi dari alat-alat tersebut. Belakangan, saya baru mengerti bahwa peralatan tersebut merupakan peralatan Single Rope Technique yang nantinya akan membawa saya turun ke dasar goa.

Pak Mul - Besar

Selagi Pak Mul memberikan briefing singkat ke 5 orang wisatawan, saya sedikit curi pandang melihat Goa Jomblang lebih dekat. Ternyata goa ini sangat dalam! Melebihi ekspektasi saya sebelum menginjakkan kaki  di tempat ini. Gigi sedikit bergidik dan keringat dingin mengucur dari kulit. Pertanda saya nervous. Setelah dirasa siap, peralatan SRT yang telah terpasang pada badan saya dikaitkan dengan tali yang tersimpul. Saya diturunkan perlahan-lahan dan mata saya terpejam.

Beberapa menit saya menggantung di atas ketinggian, dan beberapa menit itu pula saya menahan pusing dan rasa mual. Tepat ketika saya mulai memberanikan diri untuk membuka mata, jarak ke dasar goa tinggal beberapa meter lagi. Disitulah saya merasa bahwa pencapaian baru telah dibuat. Saya mengalahkan fobia ketinggian yang selama bertahun-tahun tertanam dalam pikiran saya. Great !

Aroma lembab khas goa dan medan yang licin menyambut saya di bibir Goa Jomblang. Sebuah keharusan untuk menyusuri goa ini sepanjang 300 meter agar sampai pada klimaks perjalanan. Tidak banyak yang dapat terlihat di dalam goa, hanya gelap dan bebatuan saja. Itu juga karena dibantu cahaya senter yang lama kelamaan mulai redup. Semakin banyak kaki ini melangkah, semakin keras terdengar suara air gemericik.

Rasa penasaran muncul di benak saya, seindah apa ujung dari perjalanan ini. Kemudian, terlihat dengan jelas dimata saya semburat cahaya matahari dari atas goa Grubug yang dibawahnya terdapat batuan besar yang seolah-olah menjadi singgasana bagi pengunjung yang ingin berdiri di bawah cahaya itu. Sangat tepat jika cahaya ini dinamakan “Ray of Light” atau Cahaya Surga. Takjub !

goa jomblang

Perjalanan ini seakan-akan menjadi refleksi bahwa dibalik tandusnya permukaan Gunung Kidul, tersimpan keindahan alam yang sangat mempesona. Terima kasih kepada Pak Cahyo yang telah memberikan free pass ini, dan Pak Mul yang telah membantu selama perjalanan. Ingin rasanya untuk kembali ke tempat ini di lain waktu.


[ayssocial_buttons id=”2″]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *