goa seropan

Goa Seropan, Antara Rindu dan Pencarian Ilmu

Hawa panas Gunung Kidul yang terasa membakar kulit, saya abaikan demi melanjutkan perjalanan menuju goa berikutnya yang berjarak 8 km dari Goa Jomblang. Bukan untuk berlibur seperti pada kunjungan pertama, kali ini saya bermaksud untuk belajar mengenai pemetaan Goa Seropan. Pemetaan kali ini sangat sederhana, tujuannya adalah untuk mengerti bagaimana proses pemetaan goa dijalankan dan memahami karakteristik morfologi dari Goa Seropan.

Goa Seropan bukanlah goa yang terbuka untuk umum, sehingga setiap harinya gerbang besi yang menjadi batas antara goa dan dunia luar selalu digembok oleh juru kunci. Oleh karena itu, kita harus mengantongi izin kepada warga setempat yang bernama Mas Waluyo sebelum memasuki goa ini.

Selagi meminta izin, biasanya para caver selalu mampir ke rumah Mas Waluyo untuk sekedar menaruh barang atau menjadikannya basecamp untuk melenyapkan kelelahan yang mendera. Bersantap siang bersama merupakan kegiatan yang biasa kami lakukan sebagai penambah tenaga sebelum menjelajah goa. Ngomong-ngomong, hal yang membuat saya rindu akan Goa Seropan adalah masakan yang dibuat oleh istri Mas Waluyo. Menurut saya benar-benar enak, terlebih lagi sambalnya. Duh, membuat saya kangen dengan masakan rumah.

Fisik kembali ke kondisi yang prima dibanding sebelumnya, briefing pun dimulai dan dipimpin oleh cave leader kami, Mai Warman. Briefing merupakan sebuah ritual wajib, gunanya untuk menentukan strategi apa yang akan digunakan selama penjelajahan, untuk mengantisipasi dinamika alam yang mungkin terjadi.

Kita tidak boleh meremehkan kekuatan alam sama sekali. Semua anggota percaya, bahwa persiapan yang matang adalah pangkal dari keselamatan. Metode yang kami gunakan untuk penjelajahan ini adalah top to bottom, yaitu melakukan pengukuran dari gerbang masuk goa hingga ke ujung goa.

goa seropan

Kami terdiri dari 6 orang anggota, dan setiap anggota memiliki perannya masing-masing. Saya bertugas sebagai orang ketiga yang membaca alat ukur clinometer, kompas, dan juga meteran. Orang kedua menjadi partner saya selama penjelajahan. Ia bertugas membawa ujung meteran yang saya pegang, menjauh dari posisi saya dan selanjutnya akan menjadi stasiun pengukuran.

Pemilihan orang kedua dan ketiga berdasarkan tinggi badan yang sama, agar didapatkan ketelitian dalam pengukuran kemiringan lantai goa. Melihat dari tugas dan kegiatan yang kami lakukan ketika melakukan pemetaan, saya akhirnya tersadar, ternyata tugas seorang caver yang sebenarnya cukup berat, tidak selalu mudah seperti penjelajahan program destinasi wisata yang marak tayang pada televisi Indonesia.

goa seropan

Waktu demi waktu kami lewati dan tidak menyangka jika malam sudah hampir tiba. Penjelajahan dan pengukuran ini telah sampai pada titik dimana peralatan kami tidak cukup memadai untuk melewati rintangan yang berikutnya. Kami memutuskan untuk menyudahi pemetaan dan beristirahat pada sebuah lorong goa yang permukaannya cukup tinggi dan tidak terkena aliran sungai.

Kelelahan nampaknya mendera kami, bekal roti dan minuman yang kami bawa hampir habis. Namun, celetukan dan guyonan dari teman sesama penjelajahan nampaknya menjadi obat mujarab untuk menyamarkan lelah yang kami rasa. Kami tertawa bersama, seakan tidak membayangkan bahwa masih ada perjalanan balik ke permukaan yang harus kami tempuh. Inilah yang dinamakan kebahagiaan yang sederhana.

goa seropan

Ternyata selain meningkatkan kemampuan anggota, penjelajahan kali ini juga menjadi sarana untuk lebih mengerti tentang pentingnya peran goa dan sungai bawah tanah terhadap kehidupan masyarakat sekitar, juga sebagai sarana mengakrabkan diri antara sesama anggota asosiasi peneliti goa yang saya ikuti. Sungguh perjalanan yang dapat melepaskan rasa rindu dan memenuhi hasrat mencari ilmu. Takjub !


[ayssocial_buttons id=”2″]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *